Ada sepasang suami-istri yang berjualan nasi kuning di sebuah kompleks perumahan di Jati Bening. Umur mereka sudah tidak muda lagi. Sang suami mungkin sudah berumur lebih dari 70, sedangkan istrinya sekitar 60-an. Di sekitar mereka ada beberapa gerobak lain yang juga menjual makanan untuk sarapan pagi. Tapi dari semuanya, hanya gerobak mereka yang paling sepi.
Setiap pagi, dalam perjalanan menuju ke kantor, saya selalu melewati gerobak mereka yang selalu sepi. Gerobak itu tidak ada yang istimewa. Cukup sederhana. Jualannya pun standar.
Setiap pagi pula, sepasang suami-istri itu duduk menjaga gerobak mereka dalam posisi yang selalu sama. Sang suami duduk di luar gerobak, sementara istrinya di sampingnya. Kalau ada pembeli, sang suami dengan susah payah berdiri dari kursi (kadang dipapah istrinya) dan dengan ramah menyapa pembeli. Jika sang pembeli ingin makan di tempat, sang suami merapikan tempat duduk, sementara istrinya menyiapkan nasi kuning dan menyodorkan piring itu pada suaminya untuk diberikan pada sang pelanggan. Kalau sang pembeli ingin nasi kuning itu dibungkus, sang istri menyiapkan nasi kuning di kertas pembungkus, dan menyerahkan nasi bungkusan itu pada suaminya untuk diserahkan pada sang pelanggan.
Saat sedang sepi pelanggan, pasangan suami-istri itu duduk diam. Sesekali jika istrinya agak terkantuk-kantuk, suaminya mengurut punggung istrinya. Atau jika suaminya berkeringat, sang istri dengan sigap mengambil sapu tangan dan mengelap keringat suaminya.
Kalau mau jujur, nasi kuning mereka tidak terlalu spesial. Sangat standar. Tapi, kalau saya mencari sarapan pagi, saya selalu membeli nasi kuning di tempat mereka. Bukan spesial-tidaknya. Tapi lebih karena cinta mereka yang membuat saya tergerak untuk selalu mampir.
Dalam kesederhanaan, kala susah dan sedih karena tidak ada pelanggan, mereka tetap bersama. Sang suami tidak pernah memarahi istrinya yang tidak becus masak. Sang istri pun tidak pernah marah karena gerakan suaminya yang begitu lamban dalam melayani pelanggan. Dia bahkan memberi kesempatan suaminya untuk melayani pelanggan.
Mereka selalu bersama, dan saling mendukung, bahkan di saat susah sekali pun.
Hingga hari ini, sudah 10 tahun saya lewati tempat itu, mereka masih tetap di tempat yang sama, menjual nasi kuning, dan selalu bersikap sama. Penuh kesederhanaan. Penuh kasih sayang. Dan saling menguatkan di saat susah.
Jika Anda berkunjung ke Bekasi, Anda bisa mampir ke jalan raya komplek Jati Bening Indah. Tidak susah mencari gerobak mereka yang sederhana. Carilah gerobak yang paling sepi pelanggan. Mereka berjualan sejak pukul 07.00 hingga siang hari (mungkin sekitar 11.00, karena saya pernah ke kantor jam 11.00, mereka sudah tidak ada). Jujur, nasi kuning mereka sangat standar & tidak selengkap gerobak nasi kuning lain di sekeliling mereka. Namun, cinta kasih mereka membuat makanan yang sederhana itu terasa begitu nikmat. Cinta kasih yang begitu tulus, sederhana, apa adanya. Bahkan dalam kesusahan sekalipun, mereka tetap saling menguatkan.
Sebuah kisah cinta yang luar biasa. Mungkinkah kita bisa seperti mereka?
Semoga Tuhan melimpahkan rahmat buat kita semua. Amien...
Sumber: dari millis pernikahan tetangga......
"
Senin, 20 Oktober 2008
Tetap Cinta (Semoga bisa Menjadi Seperti Ini, Subhanallah)
Pagi ini, saya berkesempatan naik bemo ke kantor. Untung begitu sampai mulut gang, ada bemo jurusan Joyoboyo yang sedang berhenti. Alhamdulilah juga masih longgar. Saya memilih duduk dekat pintu di bangku 4. Leluasa saya duduk dengan 1 penumpang yang sudah ada dipojok. Dibangku 7 sudah ada 5 penumpang. Sementara dikursi kecil samping saya, ada 1 penumpang. Kami semua terdiam, sibuk dengan berbagai rencana yang harus dikerjakan pagi ini. Kecuali sepasang dewasa di pojok belakang bangku 7.
Saya taksir umurnya diatas 50an tahun. Keduanya sedang bercakap-cakap. Sesekali tawa kecil menghiasi keduanya. Badan agak dicondongkan dan tangan keduanya saling berpegangan. Sesekali tangan kanan yang Sang Pria merapikan rambut Sang Wanita, yang diterpa angin dibelakangnya. Subhanallah. .. indahnya. Sepanjang perjalanan mereka asyik berdua. Seakan bemo ini milik berdua, yang lainnya bangku dan mesin hihihi.
Tidak berapa lama kemudian Sang Pria memencet bel di langit-langit bemo. Bemo minggir ke kiri perlahan. Keduanya bangkit. Sambil berjalan merunduk, Sang Pria berjalan didepan. Tangan kirinya memegang erat tangan kanan Sang Wanita. Meletakkan keduanya di panggul belakang. Tangan yang sedari tadi tak terlepas walau sedetik. Sang wanita berada dibelakangnya. Di tangan kirinya tergantung tas kecil warna beige, sementara jarinya memegang erat lengan Sang Pria.
Ketika sampai dipintu. Sang Pria turun dengan perlahan. Tangan kanannya bertumpu erat pegangan besi di depan pintu. Sang wanita berucap "Hati-hati, sayang.". Begitu kaki Sang Pria menginjakkan tanah. Badannya memutar 90 derajat. Tangan kanan diletakkan di pinggir atas pintu bemo. Telapak tangannya agak menelangkup. "Hati-hati, cinta." Sang Pria berucap sembari
tersenyum. Ketika kepala Sang Wanita berada di bawah tangan Sang Pria. Tangan itu berpindah tempat ke kepala Sang Wanita. "Terima kasih, sayang." terdengar suara Sang wanita ketika kakinya lepas dari tangga bemo. Dengan tetap sambil berpegangan tangan. Sang Pria mengangsurkan uang ke jendela pintu depan bemo.
Saya menahan nafas beberapa detik. Berusaha keras menahan air mata agar tak luruh. Mata ini terpaku pada keduanya. Hingga keduanya berjalan masuk ke gang kecil. Keduanya masih tetap bergandengan tangan sambil bercakap-cakap. Ketika bemo melaju. Reflek badan saya memutar ke kanan. Seakan mata ini tak rela melepaskan pemandangan indah itu begitu saja. Ketiika saya kembali ke posisi semula. Dua orang ibu setengah baya di depan saya sedang menyusut air mata dengan tisyu. Sementara seorang Bapak disampingnya, menatap kosong pintu disamping saya dengan mata merah berkaca-kaca. Sedang saya? Entahlah.
Berbagai perasaan berbuncah tak beraturan di dada ini. Subhanallah. Seandainya nanti, saya diberi kesempatan untuk menikah. Ya Allah... ingin rasanya seperti mereka. Tetap mesra hingga tua.
sumber: dari sebuah milis pernikahan
Saya taksir umurnya diatas 50an tahun. Keduanya sedang bercakap-cakap. Sesekali tawa kecil menghiasi keduanya. Badan agak dicondongkan dan tangan keduanya saling berpegangan. Sesekali tangan kanan yang Sang Pria merapikan rambut Sang Wanita, yang diterpa angin dibelakangnya. Subhanallah. .. indahnya. Sepanjang perjalanan mereka asyik berdua. Seakan bemo ini milik berdua, yang lainnya bangku dan mesin hihihi.
Tidak berapa lama kemudian Sang Pria memencet bel di langit-langit bemo. Bemo minggir ke kiri perlahan. Keduanya bangkit. Sambil berjalan merunduk, Sang Pria berjalan didepan. Tangan kirinya memegang erat tangan kanan Sang Wanita. Meletakkan keduanya di panggul belakang. Tangan yang sedari tadi tak terlepas walau sedetik. Sang wanita berada dibelakangnya. Di tangan kirinya tergantung tas kecil warna beige, sementara jarinya memegang erat lengan Sang Pria.
Ketika sampai dipintu. Sang Pria turun dengan perlahan. Tangan kanannya bertumpu erat pegangan besi di depan pintu. Sang wanita berucap "Hati-hati, sayang.". Begitu kaki Sang Pria menginjakkan tanah. Badannya memutar 90 derajat. Tangan kanan diletakkan di pinggir atas pintu bemo. Telapak tangannya agak menelangkup. "Hati-hati, cinta." Sang Pria berucap sembari
tersenyum. Ketika kepala Sang Wanita berada di bawah tangan Sang Pria. Tangan itu berpindah tempat ke kepala Sang Wanita. "Terima kasih, sayang." terdengar suara Sang wanita ketika kakinya lepas dari tangga bemo. Dengan tetap sambil berpegangan tangan. Sang Pria mengangsurkan uang ke jendela pintu depan bemo.
Saya menahan nafas beberapa detik. Berusaha keras menahan air mata agar tak luruh. Mata ini terpaku pada keduanya. Hingga keduanya berjalan masuk ke gang kecil. Keduanya masih tetap bergandengan tangan sambil bercakap-cakap. Ketika bemo melaju. Reflek badan saya memutar ke kanan. Seakan mata ini tak rela melepaskan pemandangan indah itu begitu saja. Ketiika saya kembali ke posisi semula. Dua orang ibu setengah baya di depan saya sedang menyusut air mata dengan tisyu. Sementara seorang Bapak disampingnya, menatap kosong pintu disamping saya dengan mata merah berkaca-kaca. Sedang saya? Entahlah.
Berbagai perasaan berbuncah tak beraturan di dada ini. Subhanallah. Seandainya nanti, saya diberi kesempatan untuk menikah. Ya Allah... ingin rasanya seperti mereka. Tetap mesra hingga tua.
sumber: dari sebuah milis pernikahan
Usia Pernikahan Mempengaruhi Kemesraan!!! (Buat Santai nih, jangan ditiru yang jelek)
Sebelum Bobo:
6 weeks: selamat bobo sayang, mimpi indah ya, mmmuach.
6 months: tolong matiin lampunya, silau nih.
6 years : Kesana-an doong... kamu tidur dempet2an kayak mikrolet gini sih?!
Pake Toilet:
6 weeks : ngga apa2, kamu duluan deh, aku ngga buru2 koq.
6 months: masih lama ngga nih?
6 years : brug! brug! brug! (suara pintu digedor), kalo mau tapa di gunung kawi sono!
Ngajarin Nyetir:
6 weeks : hati2 say, injek kopling dulu baru masukin perseneling ya
6 months: pelan2 dong lepas koplingnya.
6 years : pantesan sering ke bengkel, masukin persenelingnya aja kayak gini!
Balesin SMS:
6 weeks: iya sayang, bentar lagi nyampe rumah koq, aku beli martabak kesukaanmu dulu ya
6 months: mct bgt di jln nih
6 years : ok.
Dating process:
6 weeks : I love U, I love U, I love U.
6 months : Of course I love U.
6 years : Ya iyalah!! kalau aku tdk cinta kamu, ngapain nikah sama kamu??
Back from Work:
6 weeks : Honey, aku pulang...
6 months : I'm BACK!!
6 years : Si mbok masak apa hari ini??
Hadiah (ulang tahun):
6 weeks : Sayangku, kuharap kau menyukai cincin yang kubeli
6 months : Aku membeli lukisan, nampaknya cocok dengan suasana ruang tengah
6 years : Nih duitnya, loe beli sendiri deh yang loe mau
Telepon:
6 weeks : Baby, ada yang pengen bicara ama kamu di telpon
6 months : Eh...ini buat kamu nih...
6 years : WOOIII TELPON BUNYI TUUUHHH....ANGKAT DUOOONG!!!
Masakan:
6 weeks : Wah, tak kusangka rasa makanan ini begitu lezaattt...! !!
6 months : Kita makan apa malam ini??
6 years : HAH? MAKANAN INI LAGI?
Apology:
6 weeks : Udah gak apa-apa sayang, nanti kita beli lagi ya
6 months : Hati2! Nanti jatuh tuh.
6 years : KAMU GAK NGERTI2 YA DAH BERIBU2 KALI AKU BILANGIN
Baju baru:
6 weeks : Duhai kasihku, kamu seperti bidadari dengan pakaian itu
6 months : Lho, kamu beli baju baru lagi?
6 years : BELI BAJU ITU HABIS BERAPA??
Planning for Vacations:
6 weeks : Gimana kalau kita jalan2 ke Amerika atau ketempat yg kamu mau honey?
6 months : Ke Surabaya naik bis aja ya gak usah pakai pesawat...
6 years : JALAN2? DIRUMAH AJA KENAPA SEH? NGABISIN UANG AJA!
TV:
6 weeks : Baby, apa yg pengen kita tonton malam ini ?
6 months : Sebentar ya, filmnya bagus banget nih.
6 years : JANGAN DIGANTI2 DONG CHANNELNYA AH! GAK BISA LIAT ORANG SENENG DIKIT APA ?!
Don't Try It's at our Home...!!!!!!!!!!!!
Last......
Sumber: millis pernikahan tetangga
6 weeks: selamat bobo sayang, mimpi indah ya, mmmuach.
6 months: tolong matiin lampunya, silau nih.
6 years : Kesana-an doong... kamu tidur dempet2an kayak mikrolet gini sih?!
Pake Toilet:
6 weeks : ngga apa2, kamu duluan deh, aku ngga buru2 koq.
6 months: masih lama ngga nih?
6 years : brug! brug! brug! (suara pintu digedor), kalo mau tapa di gunung kawi sono!
Ngajarin Nyetir:
6 weeks : hati2 say, injek kopling dulu baru masukin perseneling ya
6 months: pelan2 dong lepas koplingnya.
6 years : pantesan sering ke bengkel, masukin persenelingnya aja kayak gini!
Balesin SMS:
6 weeks: iya sayang, bentar lagi nyampe rumah koq, aku beli martabak kesukaanmu dulu ya
6 months: mct bgt di jln nih
6 years : ok.
Dating process:
6 weeks : I love U, I love U, I love U.
6 months : Of course I love U.
6 years : Ya iyalah!! kalau aku tdk cinta kamu, ngapain nikah sama kamu??
Back from Work:
6 weeks : Honey, aku pulang...
6 months : I'm BACK!!
6 years : Si mbok masak apa hari ini??
Hadiah (ulang tahun):
6 weeks : Sayangku, kuharap kau menyukai cincin yang kubeli
6 months : Aku membeli lukisan, nampaknya cocok dengan suasana ruang tengah
6 years : Nih duitnya, loe beli sendiri deh yang loe mau
Telepon:
6 weeks : Baby, ada yang pengen bicara ama kamu di telpon
6 months : Eh...ini buat kamu nih...
6 years : WOOIII TELPON BUNYI TUUUHHH....ANGKAT DUOOONG!!!
Masakan:
6 weeks : Wah, tak kusangka rasa makanan ini begitu lezaattt...! !!
6 months : Kita makan apa malam ini??
6 years : HAH? MAKANAN INI LAGI?
Apology:
6 weeks : Udah gak apa-apa sayang, nanti kita beli lagi ya
6 months : Hati2! Nanti jatuh tuh.
6 years : KAMU GAK NGERTI2 YA DAH BERIBU2 KALI AKU BILANGIN
Baju baru:
6 weeks : Duhai kasihku, kamu seperti bidadari dengan pakaian itu
6 months : Lho, kamu beli baju baru lagi?
6 years : BELI BAJU ITU HABIS BERAPA??
Planning for Vacations:
6 weeks : Gimana kalau kita jalan2 ke Amerika atau ketempat yg kamu mau honey?
6 months : Ke Surabaya naik bis aja ya gak usah pakai pesawat...
6 years : JALAN2? DIRUMAH AJA KENAPA SEH? NGABISIN UANG AJA!
TV:
6 weeks : Baby, apa yg pengen kita tonton malam ini ?
6 months : Sebentar ya, filmnya bagus banget nih.
6 years : JANGAN DIGANTI2 DONG CHANNELNYA AH! GAK BISA LIAT ORANG SENENG DIKIT APA ?!
Don't Try It's at our Home...!!!!!!!!!!!!
Last......
Sumber: millis pernikahan tetangga
Minggu, 24 Agustus 2008
Ngapain Sih Repot-Repot Shalat Subuh Pagi Buta? di Masjid Pula?
"Sesungguhnya dua shalat ini (Subuh dan isya') adalah shalat yang berat bagi orang munafik. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui apa yang ada dalam shalat subuh dan isya', maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. " (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)
Apabila Rasulullah meragukan keimanan seseorang, maka beliau akan menelitinya pada saat shalat subuh. Apabila beliau tidak mendapati orang ttersebut shalat subuh, maka benarlah apa yang beliau ragukan dalam hati.
Ubay bin Ka'ab RA berkata, "Suatu ketika, saat Rasulullah SAW shalat shubuh, beliau bertanya, "Apakah kalian menyaksikan bahwa si Fulan shalat?' Mereka (para sahabat) menjawab, 'Tidak.' Beliau berkata lagi, 'Si Fulan?' Mereka menjawab, 'Tidak.' Maka, beliaupun bersabda: "Sesungguhnya dua shalat ini (Subuh dan isya') adalah shalat yang berat bagi orang munafik. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui apa yang ada dalam shalat subuh dan isya', maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. "" (HR. Ahmad dan An-Nasa'i).
Mencoba membayangkan, Ketika ada seorang laki-laki yang tidak mampu berjalan, tidak ada orang yang membantunya bergerak. Dalam kondisi yang sedemikian rupa, ia bersikeras untuk mendatangi masjid. Ia merangkak dan merayap di atas tanah untuk mendapatkan kebaikan yang terkandung dalam shalat subuh berjamaah.
sekiranya kita mengetahui betapa besar nilai shalat ini, kemudian kita saksikan ada orang yang meninggalkan shalat subuh dan isya' berjamaah di masjid, maka kita akan mengetahui betapa besar musibah yang telah menimpanya.
Kata-kata ini tentu saja bukan untuk menuduh orang-orang yang tidak menegakkan shalat subuh dan isya' berjamaah di masjid pada masa sekarang ini dengan sebutan munafik. Allah Maha Tahu akan kondisi setiap muslim. tetapi, hal ini diungkapkan agar kita mau mengoreksi diri, orang-orang yang kita cintai, anak-anak, serta sahabat-sahabat kita.
Ujian shalat subuh sebenarnya merupakan berfungsi untuk membedakan orang munafik dan beriman, orang yang pendusta dan orang yang jujur. Jadi, bukan sekedar mengerjakan shalat sebelum terbit matahari. Mereka yang sukses di ujian ini adalah mereka yang shalat subuh berjamaah di masjid, bagi laki-laki. sedangkan bagi perempuan , walaupun shalat di masjid diperbolehkan, tetapi shalat di rumah adalah jauh lebih baik dan lebih banyak pahalanya. Ini dijelaskan dalam hadits Ummu Hamid As-Saidiyyah RA. Ummu Hamid mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sngat menyukai shalat bersama Anda." Rasulullah SAW pun bersabda:
"Engkau telah mengetahui, shalatmu di bilikmu lebih baik dari pada shalatmu di kamarmu. Shalatmu di kamarmu lebih baik dari pada shalatmu (di ruang yang lebih luas) di rumahmu. Shalatmu (di ruang yang lebih luas) di rumahmu itu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjid raya. dan besarnya pahala shalat seorang wanita di rumahnya merupakan rahmat Allah baginya dan bagi masyarakat". (HR. Ahmad -dengan sanad Hasan- dan Ath-Thabarani).
Kalau seseorang meninggalkan shalat ini dengan sengaja, maka kesengajaan tersebut adalah bukti nyata dari sifat kemunafikan. barang siapa yang ada pada dirinya sifat ini, hendaklah dia segera bermuhasabah (intropeksi diri)......
Masih ada waktu......... untuk memulai kebaikan......... mulai dari SEKARANG.......
Terakhir,, ingat kata-kata seorang penguasa Yahudi,
"Pernah, salah seorang penguasa Yahudi, menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang islam kecuali pada satu hal. Ialah bila jumlah jamaah shalat Subuh menyamai jumlah jamaah shalat Jum'at."
Inspired by Kaifa Nuhaafidzu Alas Shalaatil Fajri, by Dr. Raghib As-Sirjani.......
"
Apabila Rasulullah meragukan keimanan seseorang, maka beliau akan menelitinya pada saat shalat subuh. Apabila beliau tidak mendapati orang ttersebut shalat subuh, maka benarlah apa yang beliau ragukan dalam hati.
Ubay bin Ka'ab RA berkata, "Suatu ketika, saat Rasulullah SAW shalat shubuh, beliau bertanya, "Apakah kalian menyaksikan bahwa si Fulan shalat?' Mereka (para sahabat) menjawab, 'Tidak.' Beliau berkata lagi, 'Si Fulan?' Mereka menjawab, 'Tidak.' Maka, beliaupun bersabda: "Sesungguhnya dua shalat ini (Subuh dan isya') adalah shalat yang berat bagi orang munafik. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui apa yang ada dalam shalat subuh dan isya', maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. "" (HR. Ahmad dan An-Nasa'i).
Mencoba membayangkan, Ketika ada seorang laki-laki yang tidak mampu berjalan, tidak ada orang yang membantunya bergerak. Dalam kondisi yang sedemikian rupa, ia bersikeras untuk mendatangi masjid. Ia merangkak dan merayap di atas tanah untuk mendapatkan kebaikan yang terkandung dalam shalat subuh berjamaah.
sekiranya kita mengetahui betapa besar nilai shalat ini, kemudian kita saksikan ada orang yang meninggalkan shalat subuh dan isya' berjamaah di masjid, maka kita akan mengetahui betapa besar musibah yang telah menimpanya.
Kata-kata ini tentu saja bukan untuk menuduh orang-orang yang tidak menegakkan shalat subuh dan isya' berjamaah di masjid pada masa sekarang ini dengan sebutan munafik. Allah Maha Tahu akan kondisi setiap muslim. tetapi, hal ini diungkapkan agar kita mau mengoreksi diri, orang-orang yang kita cintai, anak-anak, serta sahabat-sahabat kita.
Ujian shalat subuh sebenarnya merupakan berfungsi untuk membedakan orang munafik dan beriman, orang yang pendusta dan orang yang jujur. Jadi, bukan sekedar mengerjakan shalat sebelum terbit matahari. Mereka yang sukses di ujian ini adalah mereka yang shalat subuh berjamaah di masjid, bagi laki-laki. sedangkan bagi perempuan , walaupun shalat di masjid diperbolehkan, tetapi shalat di rumah adalah jauh lebih baik dan lebih banyak pahalanya. Ini dijelaskan dalam hadits Ummu Hamid As-Saidiyyah RA. Ummu Hamid mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sngat menyukai shalat bersama Anda." Rasulullah SAW pun bersabda:
"Engkau telah mengetahui, shalatmu di bilikmu lebih baik dari pada shalatmu di kamarmu. Shalatmu di kamarmu lebih baik dari pada shalatmu (di ruang yang lebih luas) di rumahmu. Shalatmu (di ruang yang lebih luas) di rumahmu itu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjid raya. dan besarnya pahala shalat seorang wanita di rumahnya merupakan rahmat Allah baginya dan bagi masyarakat". (HR. Ahmad -dengan sanad Hasan- dan Ath-Thabarani).
Kalau seseorang meninggalkan shalat ini dengan sengaja, maka kesengajaan tersebut adalah bukti nyata dari sifat kemunafikan. barang siapa yang ada pada dirinya sifat ini, hendaklah dia segera bermuhasabah (intropeksi diri)......
Masih ada waktu......... untuk memulai kebaikan......... mulai dari SEKARANG.......
Terakhir,, ingat kata-kata seorang penguasa Yahudi,
"Pernah, salah seorang penguasa Yahudi, menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang islam kecuali pada satu hal. Ialah bila jumlah jamaah shalat Subuh menyamai jumlah jamaah shalat Jum'at."
Inspired by Kaifa Nuhaafidzu Alas Shalaatil Fajri, by Dr. Raghib As-Sirjani.......
"
Langganan:
Postingan (Atom)